Penghuni Terakhir Neraka

23 11 2009

Az Zuhri berkata, ‘aku diberitakan hadist oleh Said Ibnul Musayyab dan Atha’ bin Yazid al Laitsi, bahwa Abu Hurairah memberitakan hadist pada keduanya,’Sesungguhnya orang – orang bertanya kepada Rasulullah saw., ‘wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?’ Rasulullah bersabda, ‘ Apakah kalian terhalang dan meragukan melihat bulan pada malam purnama yang tanpa terhalang oleh awan? Mereka menjawab,’ tidak wahai Rasulullah.’ Rasulullah bertanya lagi, ‘apakah kalian terhalang dan meragukan melihat matahari tanpa terhalang oleh awan?’ Mereka menjawab,’Tidak.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Demikian pula kalian akan melihat Allah SWT seperti itu; manusia dibangkitkan pada hari kiamat. Maka Allah SWT berfirman, ‘ barangsiapa telah menyembah sesuatu, maka hendaklah dia mengikutinya !’ Maka, di antara manusia ada yang mengikuti matahari, dan di antara manusia ada yang mengikuti bulan, di antara manusia ada yang mengikuti para thaghut. Kemudian yang tersisa adalah umat (islam) ini, di antara mereka ada yang munafi. Kemudian Allah SWT mendatangi mereka, seraya berfirman, ‘ Aku adalah Tuhan kalian.’ Maka, mereka akan menjawab,’Ini adalah tempat kami hingga Tuhan kami mendatangi kami, dan bila Tuhan kami datang maka kami pasti akan mengenal-Nya.’

Kemudian Allah SWT mendatangi mereka lagi, seraya berfirman,’Aku adalah Tuhan kalian.’ Maka mereka akan menjawab,’ Engkau adalah Tuhan kami.’ Maka Allah SWT memanggil mereka, kemudian shirath(jembatan) antara dua sisi neraka jahanam dipasang. Kemudian aku adalah orang pertama yang dibolehkan dari para rasul untuk melintasinya bersama masing – masing umatnya, dan tidak ada seorangpun yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Ucapan doa para rasul pada hari itu adalah, ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.’

Di dalan neraka jahanam terdapat kalalib (besi seperti kali pancing) seperti duri pohon Sa’danah.’ Apakah kalian telah melihat pohon Sa’danah?’ Mereka menjawab,’ Ya.’ Rasulullah saw. bersabda , ‘ Sesungguhnya kalalib itu seperti duri pohon Sa’danah. Namun, tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya melainkan hanya Allah SWT semata – mata, dia menyambar manusia sesuai dengan amalan – amalan mereka. Maka, diantara mereka ada yang ditutupi dan dilindungi oleh amalnya, dan di antara mereka ada yang jatuh kemudian selamat. Sehingga jika Allah ingin memberikan rahmat pada ahli neraka, maka Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang pernah menyembah Allah lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenal dengan tanda bekas sujud pada wajahnya dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka dikeluarkan dari neraka. Jadi, semua anggota tubuh anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud.

Kemudian mereka keluar dari neraka, dan mereka telah terbakar. Lalu disiramkan atas mereka maa’ul hayaah (air kehidupan). Kemudian mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya bibit benih di pinggiran aliran sungai. Kemudian Allah SWT menyelesaikan keputusan antara hamba – hamba Nya, kemudian tersisa seorang yang berada di antara surga dan neraka, dan dia adalah penduduk neraka terakhir yang masuk ke surga. Dia menghadap dengan wajahnya ke neraka seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, palingkan dan jauhkan wajahku dari neraka. Baunya telah menyesakkanku, dan jilatan apinya telah menghanguskanku.’ Kemudian Allah SWT berfirman, ‘Apakah kamu akan meminta yang lain lagi bila permintaanmu dipenuhi?’ Dia menjawab, ‘Tidak, demi keagungan-Mu.’

Kemudian Allah SWT menganugerahkan apa yang dimintanya sesuai janji dan sumpahnya, maka Allah SWT menjauhkan wajahnya dari neraka. Namun ketika wajahnya dihadapkan ke surga dan dia melihat keindahannya dia berdiam diri beberapa saat sesuai keinginannya. Kemudian dia berkata,’ Wahai Tuhanku, majukanlah diriku ke pintu surga.’ Maka Allah SWT berfirman,’ Bukankah kau telah menyatakan janji dan sumpah kepada-Ku bahwa kau tidak akan meminta selain apa yang telah kau minta?’ Kemudian dia berkata,’ Wahai Tuhanku, jangan sampai aku menjadi makhluk – Mu yang paling menderita dan hina.

Kemudian Allah SWT berfirman,’ Apakah kau akan berusaha meminta yang lain lagi bila permintaanmu Aku penuhi?’ Dia menjawab,’ Tidak, demi keagungan-Mu. Aku tidak akan meminta yang lainnya.’ Kemudian Allah SWT menganugerahkan apa yang dimintanya sesuai janji dan sumpahnya, maka Allah SWT memajukan dia hingga ke pintu surga. Namun ketika dia sampai ke  pintu surga, dan melihat taman – taman dan perhiasan – perhiasannya, dan segala kenikmatan dan kebahagiaan, dia berdiam diri sesaat sesuai keinginannya. Kemudian dia berkata,’ Wahai Tuhanku, masukkanlah diriku k surga.’ Maka Allah SWT berfirman,’ Wahai anak Adam! Betapa khianatnya kau! Bukankah kau telah menyatakan janji dan sumpah kepada – Ku bahwa kau tidak akan meminta selain dari apa yang telah diberikan kepadamu?’ Kemudian dia berkata,’Wahai Tuhanku, jangan jadikan diriku sebagai makhluk – Mu yang paling menderita dan hina.’

Kemudian Allah SWT tertawa karenanya, lalu mengizinkannya masuk surga. Kemudian Allah SWT berfirman,’Berangan – anganlah !’ Kemudian dia berangan – angan hingga angan – angannya yang paling ujung. Allah SWT berfirman,’Tambahlah anganku begini dan begini.’ Tuhannya selalu mengingatkannya tentang angan – angannya hingga angan – angannya berakhir, kemudian Allah SWT berfirman, ‘Bagimu seperti anganmu itu dan yang semisal dengannya.’

Hadist ini diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab At Tauhid.





Kisah Juraij sebagai introspeksi bakti pada orang tua

27 05 2009

Bismillah

Mungkin saat kita mendengar kata berbakti pada orang tua, timbul kesan bahwa semua itu cukuplah dengan membahagiakan orang tua lewat belajar rajin, membelikan hadiah yang menyenangkan orang tua, sering menelopon orang tua mengabarkan kondisi kita sehingga mereka tidak khawatir, dan beberapa perbuatan – perbuatan lainnya. Semua itu benar, semua tindakan itu memang termasuk perbuatan berbakti pada orang tua dimana esensinya adalah membuat orang tua senang dan bahagia, tentu saja dalam parameter – parameter islam.

Tapi jika kita melihat sebuah kisah yang terjadi pada masa bani israil yang disebutkan dalam hadist di kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari dan Muslim dalam bab Al Birr ternyata cakupan berbakti itu sangat dalam.

Dalam kisah tersebut dikisahkan tentang seorang ahli ibadah yang bernama Juraij. Rasulullah berkata, “Juraij adalah seorang ahli ibadah yang membangun suatu biara. Suatu ketika penggembala sapi singgah di biaranya dan ada seorang wanita pelacur berbuat zina dengan penggembala tersebut.

Suatu hari ibu Juraij datang dan memanggil, sementara ia sedang sholat. Maka ia berkata, “Tuhanku, itulah ibuku, dan aku sedang sholat,” maka ia melanjutkan sholatnya sehingga ibunya pulang. Esok harinya ibunya datang kembali di waktu Juraij sedang sholat dan ia tidak menyambut panggilan ibunya lagi. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, itulah ibuku dan aku sedang sholat.” Kemudian ibunya datang ketiga kalinya ketika Juraij sedang sholat. Ia berkata, “Tuhanku, itulah ibuku dan aku sedang sholat.”

Ketika itu marahlah ibu Juraij dan berdoa, “Ya Allah, jangan matikan ia sehingga melihat wajah wanita pelacur.” Beberapa saat kemudian datang penguasa membawa wanita (pelacur) yang baru melahirkan dan ia ditanya, “Dari laki – laki siapa anak itu dilahirkan?” Ia (pelacur) menjawab, “Juraij”. Ia ditanya lagi, “Bukankah dia penjaga biara itu?” Pelacur itu menjawab, “Ya.” Lalu  penguasa memerintahkan orang – orang, “Hancurkan biara itu dan bawa Juraij ke sini!” Lalu dihancurkanlah biara itu dan Juraij diborgol dan lehernya diikat dengan tali, dibawalah Juraij di depan para perempuan – perempuan pelacur dan mereka menyaksikannya sembari tersenyum.

Juraij berkata, “Wahai raja, mengapa kamu berbuat demikian kepadaku?” Penguasa itu menjawab, “Kau telah berbuat zina dengan wanita ini sehingga lahirlah anak itu darimu!” Lalu berkatalah Juraij, “Dimanakah bayinya itu?” Orang – orang berkata, “Ini bayinya bersama ibunya.” Lalu Juraij mendekatinya dan (bertanya pada bayi itu), “Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Si penggembala sapi!”

Mendengar jawaban si bayi itu, sang penguasa berkata pada Juraij, “Sukakah kamu jika kami membangunnya kembali biara itu dengan emas?” Juraij menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Dengan perak?” Juraij menjawab , “Tidak.” Penguasa itu bertanya lagi, “Lalu kami bangun dengan apa?” Jawab Juraij, “Kembalikanlah seperti semula. ” Penguasa itu bertanya lagi, “Kenapa engkau tersenyum wahai Juraij?” Jawab Juraij, “Telah kuketahui urusan ini karena panggilan ibuku, ” kemudian Juraij menceritakannya.

Dari kisah diatas, ternyata tidak memenuhi panggilan ibu ketika beliau memanggil kita bahkan ketika kita sedang sholat dapat menyebabkan Allah menghukum kita. Apalagi kalau lebih dari itu, penulis (saya) bukanlah orang lepas dari kesalahan, terkadang juga melakukan hal – hal salah, bahkan mungkin tanpa sadar ataupun sengaja pernah melakukan kesalahan ini -astaghfirullah-.

Dengan tulisan ini kita semoga dapat lebih memahami arti berbakti. Memahami pengorbanan orang tua kita, terutama ibu. Bukankah ridha Allah terletak pada ridha orang tua? dan bagaimana kita bisa masuk surga jika orang tua kita marah pada kita?





Raja yang baik dan Raja yg jahat

11 11 2008

Dikisahkan ada dua buah kerajaan yang berbeda. Satu kerajaan dipimpin oleh raja yang baik dan satu lagi raja yang jahat.

Suatu ketika dua raja itu mendapat sakit parah yang bersamaan. Kedua raja itu mengerahkan semua kekuasaannya untuk mencari obatnya. Tetapi keanehan terjadi, ternyata yang mendapatkan obatnya adalah raja yang jahat bukan raja yang baik, dimana secara logika seharusnya raja yang baik lah yang mendapatkan obat bukan raja yang jahat.

Ternyata ada rahasia dibalik itu. Raja yang baik tidak mendapatkan obat untuk penyakitnya hingga dia mati karena penyakit itu adalah karena dia masih menyimpan dosa. Allah sengaja tidak menganugerahkan obat karena ingin menghapus dosa raja itu, sehingga saat dia menghadap Allah dia tidak membawa dosa.

Raja yang jahat sendiri mendapatkan obat adalah karena dulu dia pernah berbuat kebaikan. Allah ingin membalas kebaikan dia di dunia, sehingga dia tidak membawa lagi kebaikan saat menghadap Allah.

Saat kita mendapat sebuah hal yang baik mari kita ingat kisah diatas, semoga kebaikan yang kita dapat dari Allah bukanlah sebuah kebaikan yang disegerakan di dunia sehingga mengurangi pahala kebaikan kita di akhirat.

astaghfirullah





Single Step to Islam

27 11 2007

Islam is not just a religion, Islam is way of life. The meaning of that is when we become a muslim, all of our life was controlled by Islam rules.

This rules was revealed to prophet Muhammad SAW 1400 years ago from Allah The Almighty, Allah SWT.  It was revealed through Jibril for almost 23 years.

There were two basics of Islam, it’s the fundamental sources of Islam and it can’t separated each other. They are the holy Qur’an and AlHadits. If you separate one of them, than you’ll never know the real Islam. You’ll never understanding the holy Qur’an except through understanding hadist from Rasulullah SAW.

You can’t translate the Qur’an with only your logics, Qur’an has lot of meanings than beyond our logics, it’s from the God, and our logics it’s nothing compare God. Our mind has corrupted with passion of this world, difference with Rasulullah mind’s which always guided by Allah.

Islam believe that everyone is born pure, there is no sins. Allah give us choice to be good or bad person, it just which one that we’ll choose.

If we choose to admit that there is no God except Allah The Almighty and Muhammad is Rasulullah then it’s the great gift from Allah to us. It’ s better than the whole world. Ifu choose the other,  just prepare to accept the Divine punishment.

Islam was build on five pillars. The first pillar was syahadah. We must admit that  there is no God except Allah The Almighty and Muhammad is Rasulullah. It was the fundamental of Islam, eventhough you did a good things ( ibadah) it was count nothing in the Qiyamah if you don’t syahadah.

The second pillar is sholat, it was the main ibadah in Islam. We must do it five times a day, one of it purpose is to clean our soul and body everyday. The third pillar is fasting ( shaum ). It was obligated every year in month Ramadhan, the fourth is zakat, it purposes was to clean up our property from the other’s right and to make balancing between the wealthy dan the poor.

The fifth is haji, haji is obligation to every muslim that have money dan power to do it. We just need do it once but we can do it again. But if we do repeat without considering the other muslim who was suffering in the other countries like in Palestina, Iraq, Philippines, Thailand, and Afghanistan it can be a sin for us.

Muslim is not an individual people, there is a hadist said that eventhough we sholat with khusyu’ but our neighbourgh is in hunger, our sholat will not accepted by Allah. That’s just letting neighbourg henger, how if letting our brother dying????

To become is muslim so easy, just say Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasululllah.

In the end is just your choice, isn’t