Ironi perayaan tahun baru

1 01 2009

Tahun baru Masehi sudah datang, bahkan baru saja datang beberapa jam yang lalu. Banyak dari kita yang merayakannya, aku juga termasuk. Walau aku cuma makan2 saja bersama teman2. Tidak sampai jalan2 ataupun menyulut kembang api.

Tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh, apa sih sebenarnya dirayakan. Apa yang sebenarnya membuat kita bahagia waktu itu. Terlepas dari kita tidak  membicarakan soal kondisi Palestina yang sedang dihujani bom oleh Israel ketika kita sibuk membakar uang untuk pesta kembang api ataupun sekedar menikmati pesta kembang api sambil makan  minum produk yahudi yang secara tidak langsung juga membantu yahudi.

Tapi ada ironi yang muncul. Muncul pertanyaan, apa sajakah yang sudah kita lakukan selama tahun lalu? Apakah kita sekedar “hidup” saja tanpa visi dan misi yang jelas? Pertanyaan berikutnya adalah, apa saja rencana kita tahun depan? Apakah masih tetap tanpa rencana? Ataukah kita sudah membuat rencana tetapi tanpa implementasi seperti tahun lalu?

Semoga kita tidak temasuk orang yang menyia-nyiakan waktu, seandainya dulu kita seperti itu, semoga sekarang kita tidak termasuk golongan yang akan merugi karena hidup sia – sia ataupun boros waktu.

Astaghfirullah





Nikah itu Logika, bukan sekedar “cinta”

1 01 2009

Menikah merupakan fitrah manusia. Tiap diri kita sudah dijadikan memiliki kecenderungan untuk suka pada lawan jenis, yang pada akhirnya mendorong kita untuk menikah. Jadi menikah merupakan hal yang biasa aja bagi kita, tidak perlu dilebih-lebihkan.

Terdapat fenomena yang cukup menarik menilik perkembangan dunia skrg, dimana nikah dini menjadi sebuah trend di kalangan mahasiswa atau kalangan terpelajar – tentu saja nikah dini di lingkungan pedesaan tidak menarik untuk diikuti -. Banyak terjadi pernikahan antara mahasiswa ketika mereka masih duduk d bangku kuliah ataupun segera setelah lulus. Terkadang juga terdapat pernikahan sebelum masuk kuliah ataupun setelah lulus SMA.

Tidak ada yang salah dengan hal itu, itu malah sesuai dengan sunnah Rasul karena Rasul menganjurkan agar pemuda dan pemudi yang sudah siap untuk segera dinikahkan.

Tetapi apakah masalah menikah itu semudah itu ? Ternyata menikah itu tidaklah sesimple itu. Menikah memerlukan banyak pertimbangan, logika menjadi acuannya, tidak sekedar cinta atau perasaan suka. Walau harus diakui bahwa cinta juga berperan besar. Islam sendiri menganjurkan untuk melihat wajah calon pasangan kita sebelum menikah untuk untuk menambah perasaaan cinta kita kepada calom pasangan kita.

Kembali ke pernikahan menuntut peran logika yang besar. Syarat utama menikah memang kemandirian dalam finansial dan kedewasaan kita. Tapi tidak cukup cuma itu. Kita juga harus juga memikirkan tentang visi kita dan visi calon pasangan kita. Bagaimanakah nanti saat membangun keluarga,  bagaimana cara mendidik anak bila dikaruniai oleh Allah. Selain itu juga  soal life style kita juga harus diperhatikan, jangan sampai terjadi masalah hanya karena perbedaan life style yang terlalu mencolok.

Rasul juga menyebutkan 4 alasan kenapa seorang wanita dinikahi, yaitu karena agamanya, hartanya, nasabnya, ataupun karena kecantikannya. Tidak masalah kita mencari pasangan yang cantik, kaya, keturunan bangsawan atau ulama, asalkan agama menjadi pertimbangan utama dalam memilih pasangan. Terlihat bahwa disini kita juga diharuskan memakai logika dalam mencari calon pasangan hidup, tetapi sekali lagi tidak menghapuskan peran cinta atau perasaan suka.

Dengan menikah, berarti kita memadukan dua individu yang berbeda. Individu yang memiliki pemikiran, paradigma, life style, dan impian yang mungkin saja berbeda. Tapi tidak menutup kemungkinan juga sama. Dibalik semua itu,pernikahan tidak usah dibuat rumit, tapi juga jangan dibuat terlalu mudah, kita tidak boleh melupakan logika kita dalam mencari calon pasangan. Kita tidak boleh tenggelam dalam perasaan suka atau cinta buta yang bisa berakibat merugikan nantinya








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.